Oleh: LPM UNMUHA | Oktober 18, 2010

Cut Murnita : Konflik Mengasah Jiwa Sukarela

Oleh : Zulmasry

Senin , 3 Mei 1999, matahari beranjak siang. Cut Murnita bersama teman-teman pulang dari sekolah, ia duduk di bangku kelas 3 SMP, tujuan pulang kerumah. Tak ada firasat apa-apa dibenak, sama seperti hari-hari sebelumnya, pagi ke sekolah keluar langsung pulang, kebetulan rumahnya tidak jauh dari sekolah. Tiba sepertiga perjalanan, ia menjumpai beberapa ibu-ibu dan memintanya agar tidak pulang kerumah. Alasan sedang ada demo di Simpang KKA. Simpang KKA terletak di Kabupaten Aceh Utara Kecamatan Dewantara. Saat konflik memuncak, di sana pernah terjadi penembakan warga oleh tentara, 46 orang meninggal, 156 luka-luka dan 10 orang dinyatakan hilang.  Sampai sekarang hari duka itu masih terus dikenang, tiap tahunnya kerap ada peringatan.

“hai neuk katamoeng keunoe mantoeng Baca Lanjutannya…

Oleh: LPM UNMUHA | Oktober 18, 2010

MENJAWAB PERSOALAN DENGAN PIK MAHASISWA?

Oleh  : Zulmasry

Remaja merupakan kelompok risiko tinggi terhadap kehamilan yang tidak diinginkan serta berbagai penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Hal tersebut dijumpai pada remaja hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan data Studi Mengenai Perilaku Seksual Kawula Muda di empat kota besar di Indonesia, terungkap rata-rata remaja melakukan hubungan seksual pertama kali pada usia 18 tahun.

Baca Lanjutannya…

Oleh: LPM UNMUHA | Maret 26, 2010

Pemenang Lomba Fotografi

Oleh: LPM UNMUHA | Maret 25, 2010

PEMENANG LOMBA CERPEN DAN PUISI PERDAMAIAN

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Aceh (LPM UNMUHA) dalam rangka memperingati ulang tahun ke II, 23 Maret lalu mengadakan lomba menulis cerpen dan cipta puisi tentang perdamaian tingkat SMA se-Aceh. Sedangkan lomba fotografi untuk kategori umum.

Lomba cerpen dimenangkan oleh

Juara I Roni Febrian (SMA Unggul Sigli) judul karya Prahara.

Juara II Ajran Nura (MAN Model Banda Aceh) judul karya Sepenggal Doa Rahman,

Juara III Fara Julita Aliyah (SMA N 1 Tapak Tuan) judul karya Gelisah Si Pohon Cengkeh.

Pemenang Lomba cipta puisi  perdamaian

Juara I Faizul (SMA Modal Bangsa), judul karya Negeri di Atas Angin

Juara II Hudaya Thariq (SMA Fajar Harapan) judul karya Renungan Damai

Juara III Yasmanijar (SMA Unggul Aceh Selatan) judul karya Kalau Saja.

Kegiatan ini merupakan wujud LPM Unmuha dalam menjaga dan mengisi perdamaian. Mengingat generasi muda (pelajar) adalah generasi penerus Aceh. Oleh karena itu, pelajar sejak dini harus ditanam kebiasaan berpikir dan bertindak berdasarkan nilai-nilai perdamaian.

Menjaga perdamaian bukan hanya tanggung jawab pemerintah, namun tanggung jawab semua elemen masyarakat. Tidak terlepas kelompok mahasiswa. Harapan kami, dengan mengadakan kegiatan ini sedikit banyak dapat membantu pemerintah mensosialisasikan perdamaian sampai ke kelompok pelajar.

Oleh: LPM UNMUHA | Januari 31, 2010

Tabloid Lensa Edisi VIII

Oleh: LPM UNMUHA | Januari 30, 2010

Journalist Of Future

Oleh: LPM UNMUHA | Januari 29, 2010

Surat Terakhir buat Pacarku

Oleh : Malisa Aini Alasa

Mahasiswi Fakultas Ekonomi Unmuha

Suasana malam begitu tenang dan sangat sunyi, yang ada hanya suara jarum jam yang setia menunjuk dua belas angka yang mengelilinginya. Satu per satu angka itu ditunjuk. Terus, terus dan terus. Ya, itulah hasil pemikiran sekaligus karya orang-orang besar dan orang yang berfikir jauh ke depan. Aku terbangun menoleh ke arah jam. Jarum jam yang paling pendek menunjuk ke arah angka tiga.

Aku merasa ketentraman jiwa ketika sujudku bertumpu pada sajadah pemberian ibu. Bayangan wajah orang tuaku  kembali  tergambar  beserta kisah masa lalu ku dan harapan untuk masa depan. Selesai shalat rasanya seperti baru lahir, tidak ada beban sedikitpun. Selesai shalat kubuka jendela kamar. Subhanallah… Udara begitu bersih dan segar menghempas wajah ku. Di luar sana kusaksikan pohon yang bergoyang dan berbagai nyanyian serangga. Menandakan mereka bertasbih memuji ilahi. Begitu juga dengan semua benda yang berada di muka bumi ini. Bahkan, di seluruh jagat raya. Lalu bagaimana dengan makhluk yang paling sempurna di muka ini yang masih terlelap.

Baca Lanjutannya…

Oleh: LPM UNMUHA | Januari 29, 2010

Perempuan Berada di Dunia Laki-laki

wartawan : Nurul Izzati dan Yulia Mirna

Ibu (perempuan) adalah sekolah bagi anak-anaknya

Bila engkau persiapkan ,

berarti engkau telah persiapkan bangsa yang baik akhlaknya

Perempuan identik dengan kelembutan. Lebih jauh perempuan sering dikatakan mahluk lemah (kekuatan), ia selalu berada di bawah laki-laki., sehingga perempuan kerap diberikan pekerjaan yang menurut laki-laki adalah pekerjaan ringan tapi sangat membutuhkan energi lebih ekstra. Seperti pekerjaan rumah tangga, mulai dari cuci pakaian, menyiapkan sarapan pagi, membersihkan rumah, menjaga anak, terus menyiapkan makan siang sampai tetek-bengek lainnya. Pada malamnya harus melayani suami. Tak asing juga kita jumpai, perempuan juga harus bekerja untuk membantu pendapatan keluarga. Kita bisa menjumpai di daerah-daerah perkampungan perempuan bekerja banting tulang di sawah atau kebun, sedangkan suami duduk ayem di warung kopi.

Baca Lanjutannya…

Oleh: LPM UNMUHA | Januari 29, 2010

DEMOKRASI YANG TERCORENG

Terakhir Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) Unmuha dipimpin oleh Riswan Haris, tahun 2006 lalu. Memasuki tahun 2010 PEMA Unmuha belum juga berdiri layaknya sebuah organisasi terbesar yang ada di kampus. Kenapa?

17 Juni 2009 lalu, mahasiswa Unmuha melakukan perhelatan akbar tahunan. Sebuah pesta demokrasi, guna menentukan pemimpin di kalangan mahasiswa melalui Pemilihan Raya (Pemira). Ya. Pemira. Kembali dilaksanakan setelah 3 tahun berlalu. Terakhir dilaksanakan pada pertengahan 2005 yang melahirkan Riswan Haris sebagai Presiden Mahasiswa. Habis masa pemerintahan Haris, PEMA di Pjs kepada Zakaria. Tugas utama Zakaria saat itu melakukan pemilihan Presma definitif. Namun karena berbagai kendala presma definitif belum juga ada.

Baca Lanjutannya…

Oleh: LPM UNMUHA | Januari 25, 2010

Aku Bersekolah di Negeri Antara

Oleh : Khairi Tuah Miko

Mele i ogohen ke kekanak nie, buku pe gere ara kune mele belejer (Mau dibodohkan anak-anak kita ini, buku saja tidak ada bagaimana mau belajar),” ungkap Samsudin yang bekerja sebagai petani kopi itu, dengan nada yang  meninggi ia terus melanjutkan ceritanya tentang kondisi pendidikan di desa yang kaya akan kopi itu.

Dulu, disini sering terdengar bunyi letusan senjata dan beberapa jam kemudian pasti terdengar kabar ditemukankannya mayat. Pembakaran sekolah dan penculikan pun kerap terjadi di  kawasan ini, tambahnya.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.