Oleh : Zulmasry
Senin , 3 Mei 1999, matahari beranjak siang. Cut Murnita bersama teman-teman pulang dari sekolah, ia duduk di bangku kelas 3 SMP, tujuan pulang kerumah. Tak ada firasat apa-apa dibenak, sama seperti hari-hari sebelumnya, pagi ke sekolah keluar langsung pulang, kebetulan rumahnya tidak jauh dari sekolah. Tiba sepertiga perjalanan, ia menjumpai beberapa ibu-ibu dan memintanya agar tidak pulang kerumah. Alasan sedang ada demo di Simpang KKA. Simpang KKA terletak di Kabupaten Aceh Utara Kecamatan Dewantara. Saat konflik memuncak, di sana pernah terjadi penembakan warga oleh tentara, 46 orang meninggal, 156 luka-luka dan 10 orang dinyatakan hilang. Sampai sekarang hari duka itu masih terus dikenang, tiap tahunnya kerap ada peringatan.
“hai neuk katamoeng keunoe mantoeng
Tak ada yang menyuruh, ia langsung bergabung dalam barisan. Berdesakan dengan masyarakat lainnya. Melihat tentara berbaris menenteng senjata. Ia begitu berani. Tak lama berselang, suara tembakan membahana, bersahut-sahutan, semua orang berlari tak menentu. Berusaha menyelamatkan diri dari terjangan peluru. Erangan, teriakan, tangisan, kalut, takut menghias siang Simpang KKA. Cut menangis sambil terus berlari, gugup menguasai tubuhnya, asma Allah terus dilafaz. Tiba juga di rumah.
“Sampai sekarang saya masih ingat anak kecil, namanya Sadam Husin terkena peluru dikepala, saat itu saya tidak bisa berbuat apa-apa,” kisah Cut Arnita kepada ku suatu pagi di The Helsinksi sambil ngopi pagi.
Ia terpukul, merasa bersalah, melihat korban merenggang nyawa di depan mata, tapi tidak mampu berbuat atau sekedar menolong. Jiwa kesukarelawannya ‘mendidih’. Maklum sejak SMP ia termasuk anggota Palang Merah Remaja. Sikap empati sudah tertanam begitu jauh dalam jiwanya. Sehingga begitu melihat orang lain terluka, serta merta tanpa permintaan ia ‘turun tangan’.
“saat itu saya ingin sekali menolong, tapi saya tidak tahu bagaimana caranya. Saya kalut, dan takut. Karena di Palang Merah Remaja (PMR) kami belum diajarkan bagaimana melakukan pertolongan pertama. Sejak itu saya berpikir bagaimana saya bisa menolong orang lain. Karena bagi saya, kalau bisa menolong orang, rasanya lega sekali,” ujar perempuan yang pernah mengecap pendidikan di Fakultas Hukum Unsyiah ini.
Masuk kelas dua SMA Cut bergabung dengan Palang Merah Indonesia Ranting Dewantara, pun begitu ia belum menjadi anggota penuh, karena masih dianggap PMR. Namun ia tetap diikut sertakan dalam setiap kegiatan. Termasuk mengevakuasi manyat korban konflik.
Pernah sekali, mereka (red ; PMI) mendapat info ada masyarakat yang menjadi korban dari kontak tembak TNI dan GAM. Secepat mungkin mereka menuju kelokasi, sampai dipertengahan di jalan yang diapit pergunungan dan sawah. Mereka terjebak dalam rentetan senjata. Bayangkan mereka berada di tengah antara GAM dan TNI berperang, maju tidak bisa, mau mundur juga tidak bisa. Tidak lama berselang, ada teriakan dari anggota TNI. Memerintah anggotanya agar tidak melepas tembakan. Dan menyuruh mobil PMI mundur.
“Setelah melihat mobil PMI kedua pihak berhenti menyerang, kemudian melanjutkan setelah kami mundur,” Cut mengulang kembali kejadian 8 tahun silam.
Di lain hari, Cut bersama teman-teman mengevakuasi jenazah korban konflik dengan kondisi sangat parah. Kepala terpisah dari badan. Malamnya secara tidak sengaja ia tidur di karpet bekas bungkusan manyat tadi.
“Saya bermimpi, kalau dia berterima kasih kepada kami karena telah mengambil jenazahnya. Dan memberitahukan kepada saya kepalanya ada di sebuah jembatan. Saat kami datangi, ternyata benar, kepala dia ada di sana,” ia melanjutkan kisah yang telah mendidiknya menjadi seorang relawan hingga kini.
Baginya menjadi relawan adalah pilihan hidup yang mulia. Ia berprinsip, bekerja bukan untuk mencari uang, tapi sebagai hiburan, walaupun ia tak mempungkiri hidup juga butuh uang. Cut resmi menjadi anggota PMI tahun 2003 di PMI Dewantara. Pasca tsunami ia hijrah ke Banda Aceh, bergabung dengan PMI Cabang Kota Banda Aceh. Saat ini ia ditempatkan di Ambulance. Ia harus siap kapan pun mendapat panggilan darurat, tak mengenal waktu, kadang larut malam ia harus menjemput orang yang sedang sekarat. Tidak membedakan siapa mereka, anak-anak, dewasa, perempuan, laki-laki, pencuri, pejabat dan orang miskin, tugasnya adalah melakukan pertolongan pertama dan secepatnya membawa ke rumah sakit.
Ia mengakui pekerjaan ini tidak dibayar, tapi murni keikhlasan. Dapat membantu orang lain bagi kepuasan batin. Wajar nilai-nilai kerelawanan sudah tertanam sijak dibangku sekolah.
“Melihat darah tubuh saya bergetar, rasa ingin menolong langsung timbul,” ujar anak dari pasangan Teuku Dansyah dan Cut Ratna Putri ini.
Missal saat rusuh antara pendukung PSAP Pidie dengan pendukung Persiraja di Stadion Lhong Raya, seorang bocah mengalami luka serius di kepala, terkena lemparan batu. Dengan sigap Cut lompat pagar untuk menolong bocah malang tadi. Padahal saat itu dia sedang tidak piket, tapi jiwa kerelawanannya tak mengizinkan berdiam diri tanpa melakukan sesuatu.
“Untung cepat di tolong, kalau tidak anak itu bisa saja meninggal. Darah banyak sekali keluar. Bahkan dalam ambulance anak itu sempat tak sadarkan diri.” Ujarnya. “Ajal memang ditangan Allah, tapi manusia harus berusaha.”.
Dalam menjalankan ‘misi kemanusian’ kerap juga mengalami kendala. Apakah dari pihak keluarga korban maupun masyarakat lainnya.
“Kadang kami juga tidak berani melakukan pertolongan pertama tanpa ada izin dari keluarga. Seharusnya masyarakat harus benar-benar memperhatikan, apabila ada yang menderita sakit segera ke rumah sakit, jangan tunggu parah” pesannya gadis yang pernah aktif di Organisasi Pecinta Alam.
Ia juga menyesalkan bila ada masyarakat yang tidak memberi jalan saat mereka mengantarkan korban. Menurutnya ini menyangkut nyawa orang, jangan sampai karena kelengahan kita nyawa orang tak terselamatkan.
Anak ke 3 dari 7 bersaudara ini memiliki cita-cita mendirikan sebuah yayasan, yang nantinya bisa menampung anak-anak jalanan dan putus sekolah. Semoga dikabulkan.



Kisah yang menarik, dan dibingkis dalam tulisan yang menarik, tapi yang paling menarik seorang pencoret pena dibalik tulisan ini.
Oleh: Alfisyahrin on November 10, 2010
at 6:20 pm