Oleh: LPM UNMUHA | Oktober 18, 2010

MENJAWAB PERSOALAN DENGAN PIK MAHASISWA?

Oleh  : Zulmasry

Remaja merupakan kelompok risiko tinggi terhadap kehamilan yang tidak diinginkan serta berbagai penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Hal tersebut dijumpai pada remaja hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan data Studi Mengenai Perilaku Seksual Kawula Muda di empat kota besar di Indonesia, terungkap rata-rata remaja melakukan hubungan seksual pertama kali pada usia 18 tahun.

 

Coba kita bayangkan, hasil survey LSCK & PPBH 1999-2002 di Yogyakarta, 97,05% dari 1.660 mahasiswi telah hilang kegadisannya. Mereka melakukan dengan cara coitus interuptus 73%,  menggunakan alkon 27%.  Tempat melakukan pun beragam, 63% di tempat kos pria, 21% di Hotel Melati, 14% di kos puteri dan  2% di tempat wisata. Faktor paling mempengaruhi remaja melakukan hubungan seks pranikah (300% lebih besar) bila ia punya pacar, teman yang bersikap setuju dengan hubungan seks pra nikah, Teman yang mendorong untuk melakukan seks pra nikah (Analisa lanjut SKRRI 2002).

Beranjak dari realita di atas tepat pada tahun 2007 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) membentuk Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa sebagai Center of Excellence. Program ini targetnya adalah mahasiswa. Berupa membentuk pusat konseling di kampus-kampus.

Nantinya, beberapa mahasiswa dilatih untuk menjadi konseling sebaya. Menjadi tempat bagi mahasiswa lain untuk bertanya, berkonsultasi sekaligus berbagi ilmu seputar kespro. Selanjutnya menyiapkan tenaga Pendidik Sebaya dan pemberian pelayanan Pendidikan Sebaya Menyiapkan tenaga Konselor Sebaya dan pemberian pelayanan Konseling.

PIK mahasiswa juga tidak tertutup untuk dikunjungi oleg remaja-remaja luar kampus. Bahkan PIK mahasiswa diharapkan menjadi tempat magang bagi PIK remaja yang saat ini ada di sekolah-sekolah.

Saat ini PIK di Aceh baru terdapat di 2 kampus, IAIN Ar-Raniry dan Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha). Sedangkan skala nasional PIK Mahasiswa totalnya berjumlah 111 kelompok (data 31 Maret 2010).

Tak tanggung-tanggung, pemerintah pusat melalui APBN mengalokasikan dana sebesar 240 juta untuk pembentukan 1 kelompok PIK Mahasiswa. Menurut Ihya,  ketua devisi remaja di BKKBN Aceh,  program ini berlangsung sampai 5 tahun kedepan. Tujuan dari program ini, untuk mensosialisasikan kesehatan reproduksi yang benar kepada mahasiswa oleh mahasiswa itu sendiri. Mereka percaya dengan melibatkan secara aktif para mahasiswa maka sosisalisasi tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi akan langsung menuju sasaran.

“Kita percaya kepada mahasiswa untuk menjadi pendidik, kepada teman sebaya mengenai pentingya menjaga kesehatan reproduksi,” kata Ihya saat pembentukan PIK Mahasiswa di Unmuha.

“Karena kita tidak mampu mensosialisasikan kesemua sector terutama mahasiswa, sehingga program ini penting,” tambahnya.

Kalau merujuk pada fakta di atas, langkah ini sangat tepat. Dengan keterlibatan mahasiswa, maka informasi tentang menjaga kespro semakin luas, bukan hanya bagi mahasiswa yang kuliah di jurusan kesehatan, yang kesehariannya memang belajar tentang itu. Tapi semua elemen. Bahkan di beberapa Negara eropa, mata kuliah kespro sudah menjadi mata kuliah wajib di setiap jurusan.

Dalam deklarasi hak kesehatan reproduksi remaja ada 12 hak yang disepakati. Salah satunya hak mendapatkan informasi dan pendidikan. PIK Mahasiswa merupakan suatu wadah yang dikelola dari, oleh dan untuk  mahasiswa dalam memperoleh informasi dan pelayanan konseling tentang Keluarga Kecil Bahagia (KKB), PKBR dan kegiatan penunjang lainnya. Dengan begitu keberadaan PIK Mahasiswa menjawab deklarasi di atas.

PKBR adalah suatu program untuk memfasilitasi terwujudnya Tegar Remaja (Mahasiswa) yaitu Remaja/Mahasiswa yang berperilaku sehat, terhindar dari risiko TRIAD-KRR, menunda usia pernikahan, mempunyai perencanaan kehidupan berkeluarga untuk mewujudkan KKBS serta menjadi contoh, model, idola dan sumber informasi bagi teman sebayanya.

Ada 4 materi yang menjadi titik fokus dalam PIK mahasiswa, pertama TRIAD KRR meliputi Seksualitas, HIV/AIDS dan NAPZA. Kedua pemahaman tentang hak-hak reproduksi, ketiga kecakapan hidup dan keempat keterampilan advokasi.

Duta Mahasiswa

PIK mahasiswa akan diisi dengan berbagai kegiatan positif yang dapat menunjang keaktifan mahasiswa. Salah satu yang paling menarik perhatian, pemilihan duta mahasiswa yang memiliki sensitifitas terhadap kesehatan reproduksi. Untuk tingkat Aceh kegiatan ini akan berlangsung pada bulan april, peserta mewakili perguruan tinggi yang ada di Aceh. Peserta duta mahasiswa terlebih dahulu di interview mengenai pemahaman kespro, dan sebagainya. Pemenang duta mahasiswa tingkat provinsi akan mengikuti pemilihan duta mahasiswa nasional pada bulan mei. Melalui pemilihan duta ini, diharapkan gaung dan keingintahuan mahasiswa terhadap kespro semakin meningkat. Tugas dari duta mahasiswa yang terpilih sebagai ujung tombak pemerintah dalam mengkampanyekan kespro di lingkungan mahasiswa.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.